Peribahasa yang pantas untuk orang sepertiku. Berapa kali aku kehilangan teman, sahabat, kepercayaan. Berapa kali aku menyakiti perasaan orang, orang tua, saudara, teman. Cuma karena mulutku. Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga.

Itulah sebabnya mengapa seringkali aku lebih memilih untuk diam. Diam untuk tidak berkata, untuk tidak berkomentar. Padahal sekian banyak kata terkadang menumpuk memenuhi alam pikiran untuk menunggu giliran terucap dari mulut.

Mungkin diam adalah tindakan yang paling bijaksana untuk orang seperti diriku, manusia bodoh yang selalu mengulangi kesalahan yang sama.

Astaghfirullah, Ampuni aku Ya Tuhan
Maafkan aku Ibu… Maafkan aku saudara-saudaraku…
Maafkan aku teman…Myooaafkan aku sahabat….

Suatu perubahan, sebuah sejarah seringkali diawali oleh sebuah coretan-coretan (kecil) di atas kertas, coretan ide-ide brilian (seperti naskah Sumpah Pemuda atau naskah Proklamasi Kemerdekaan).

Di jaman teknologi yang semakin maju membuat pencatatan-pencatatan tersebut menjadi lebih mudah, tidak perlu lagi membuang-buang kertas, terlebih setelah ditemukannya fasilitas blog, sebuah media untuk menumpahkan catatan-catatan dokumentasi. Hal ini pula yang (mungkin) mengawali para bloger untuk mencatat sejarah-sejarah/tulisan-tulisan baik dalam bentuk prosa, pantun, atau hanya sekedar curhatan pribadi. Yang jelas suatu bukti tertulis adalah sebuah sejarah.

Tulisan-tulisan tersebut tidak sedikit yang memiliki makna lebih, baik bagi penulis maupun bagi pembacanya, karena beberapa bloger memang memiliki ide-ide yang brilian dan mampu menginspirasi bloger-bloger lainnya terlebih masyarakat luar.

Salah satu contoh konkrit, sebuah tulisan atau blog dapat menginspirasi seseorang untuk membuat blog, membuat tulisan, dokumentasi, atau dengan kata lain mulai mencatat sejarah-sejarah bagi dirinya ataupun orang lain.

Menulis tentunya merupakan salah satu kreatifitas yang positif, yang membuat seseorang memanfaatkan otaknya, menggali potensinya, dan yang paling penting dapat mengisi waktu kosongnya dengan kegiatan yang positif, bukan dengan kegiatan yang sia-sia bahkan negatif.

Jadi kegiatan positif tidak perlu dari hal yang besar, mulai dari hal yang kecil seperti menulis saja sudah bisa mencatatkan sebuah sejarah di dunia ini, terlebih membawa suatu perubahan.

DUNIA MILIKMU” merupakan lagu pertama yang kutulis sekitar 2 tahun yang lalu, sebetulnya bukan yang pertama juga, sebelumnya beberapa kali aku sempat menulis lirik, hanya “DUNIA MILIKMU” ini adalah lagu pertama yang ditulis dan diaransemen secara serius, kemudian direkam lalu dibawakan oleh band-ku. Lagu ini kubuat selama kurang lebih satu minggu.

Berawal dari keterpurukanku karena cintaku ditolak oleh seorang wanita (duh aku jadi malu menceritakannya, tersipu) , suatu hari aku memutuskan untuk bangkit dari kesedihan dan kehampaan. Aku menyadari bahwa hidup ini bukan sekedar mencari cinta, karena cinta itu sudah kita miliki sejak dulu, tapi yang aku tau hidup ini adalah untuk mencari kebahagiaan :-) . Meskipun sendiri harus tetap bahagia, karena pada dasarnya kita tidak sendiri, masih ada keluarga, teman-teman dan kerabat lain yang menyayangi kita. Penggunaan kata “mu” dalam lirik tersebut memberi kesan bahwa inspirasiku berbicara kepadaku untuk segera bangkit dari keterpurukan.

Berikut lirik lagu “DUNIA MILIKMU“:

Buka matamu … lihatlah ke langit biru
Bebaskan pikiranmu itu
Jelang harimu … warnai kisah hidupmu
Wujudkan impianmu satu

(*)Tetes air mata … hapuslah
Sambut hari dengan ceria

Reff:
Raih bahagia dalam setiap derap langkah hidupmu
Jangan ragu … jelajahi makna dirimu
Raih bahagia dalam setiap deru nafas jiwamu
Jangan ragu … dunia jadi milikmu

Luka hatimu … simpan dalam masa lalu
Mulailah dengan hidup baru
Hangat cintamu … mengalir dalam tubuhmu
Bawa dalam setiap hadirmu

Back to : (*), Reff, interlude, Reff

Barangkali setiap anak yang pernah belajar membaca dan menulis akan sangat familiar dengan judul di atas. Tapi sampai saat ini apakah kita tahu siapakah sebenarnya nama asli dari Ibu Budi itu??? Hehehe…bukan itu yang akan kubahas di postinganku kali ini.

Kegiatan tulis menulis sebetulnya sudah kita geluti mulai dari saat kita mengenal sesuatu yang bisa digenggam untuk kemudian dicoret-coretkan ke media apapun itu (kertas, lantai, tembok, dll). Hanya saja kegiatan ini secara sadar dilakukan ketika kita mulai diajari cara tulis menulis yang baik dan benar oleh orang tua atau pun guru.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya ilmu tentang tulis menulis, maka seiring itu pula kegiatan ini dapat menjadi suatu hobi atau seni, seni merangkai kata-kata, seni mencurahkan hati, dll. Dengan pengetahuan mengenai majas, kiasan, kosakata, dan lain sebagainya, sebuah tulisan akan menjadi lebih berbobot dan bermakna. Sehingga ketika kegiatan menulis menjadi seni, maka kegiatan ini menjadi suatu kegiatan yang serius dan mau tidak mau harus merenggut sebagian ruang dan waktu kita (ini yang baru kusadari).

Untuk menghasilkan sebuah tulisan yang berbobot dan bermakna bagi yang membacanya, maka dibutuhkan pengetahuan menulis dan berbahasa. Dalam mempelajari pengetahuan tersebut, kita membutuhkan waktu sekitar 12 tahun dalam pendidikan formal untuk dapat menguasainya. Ini belum termasuk waktu yang kita butuhkan dalam membuat sebuah tulisan, di mana kita harus mengkonsep, mendraft, mengembangkan imajinasi, menjadikannya menarik, kemudian mengedit untuk layak dipublikasikan, paling tidak mendatangkan rasa puas di diri kita. Jadi dapat anda bayangkan berapa waktu yang dibutuhkan untuk membuat sebuah tulisan yang layak dipublikasikan.

Hal di atas pun terjadi kepadaku ketika aku mulai mencoba menulis sesuatu, kendala-kendala pun kualami, bagaimana sulitnya mengkonsep, membuat draft, merangkai kerangka konsep, sehingga terlihat jelas alur ceritanya dan lebih enak untuk dibaca, menyisipkan kata-kata yang menarik sehingga tidak terkesan monoton atau membosankan, dan lain sebagainya. Namun yang terpenting adalah memunculkan ide atau inspirasi, karena ide itu seperti wangsit yang datang secara tiba-tiba dan tidak terduga sehingga kita tidak dapat merencanakan kapan saatnya yang paling tepat untuk menulis.

Oleh karena itu, untuk bisa menjadi seorang penulis yang baik dan berhasil dibutuhkan kemauan diri untuk terus belajar, menambah khasanah ilmu, banyak membaca buku, mengembangkan ide-ide dan imajinasi serta hasrat untuk menulis.

(Mohon maaf bila judul dan tulisannya tidak nyambung…. :-) )

Siapakah ibu Budi?

Siapakah ibu Budi?

Hari ini aku melakukan sebuah langkah besar dalam hidupku, mencatat sejarah baru dalam buku perjalanan hidupku, yaitu membuat sebuah rumah blog sendiri. Mengapa kubilang langkah besar dan sebuah catatan sejarah, tidak lain karena selama kegiatanku di dunia maya ini, baru kali ini aku menanamkan petak di tanah blog.

Selama ini aku tidak begitu tertarik untuk membuat sebuah ruang blog di dunia yang tidak terbatas ini, karena aku merasa aku bukan seorang penulis… penulis yang baik, meskipun aku pernah membuat beberapa catatan kecil di rumahku, di lembaran-lembaran belakang sebuah buku catatan kuliah Kalkulus yang setelah kulihat kembali ternyata jumlahnya tidak sedikit.

Kini aku telah menanda sebuah petak di tanah blog, apakah aku sudah pantas disebut blogger? (tersenyum). Yang pasti aku adalah anak yang baru terlahir ke dunia maya ini dan masih harus banyak belajar lagi.

Ah..kita lihat saja nanti.

Selamat Datang di dagdigdug.com. Ini posting pertamamu , Ekspresikan perasaanmu. Ngebloglah sekarang juga !