Naik kereta api tut tut tut
Siapa hendak turut
Ke bandung… surabaya…bolehlah naik dengan percuma
Ayo kawanku lekas naik, Keretaku tak berhenti lama
Rasanya siapa pun yang pernah menjadi anak-anak Indonesia pasti pernah menyanyikan lagu ini, meskipun mereka tidak tahu siapa penciptanya (termasuk diri saya, hehehe). Masih jelas di ingatan saya ketika dahulu menyanyikan lagu ini sambil berbaris dengan teman-teman, berjalan beriringan layaknya rangkaian kereta api. Senang…riang…
Memang enak ya jadi anak-anak
Tapi itu mah cuma intermezzo aja. Sebenarnya sengaja saya menuliskan kembali lagu lama ini bukan karena ingin bernostalgia dengan masa kecil saya, tapi karena kondisi perkeretaapian Indonesia, terutama jalur Jabodetabek yang bisa dibilang agak memprihatinkan akhir-akhir ini.
Sebelumnya saya ingin menceritakan sedikit sejarah jalur Kereta Api (KA) Jakarta-Bogor ini. Pada tahun 1923, Staats Spoorwegen (SS) yang merupakan perusahaan kereta api pemerintah Hindia Belanda, memulai pembangunan elektrifikasi jalur KA di Indonesia. Pada saat itu rute yang dibangun adalah rute Tanjung Priuk - Meester Cornelis (Jatinegara) dan selesai pada 24 Desember 1924. Rute Batavia (Jakarta Kota) - Buitenzorg (Bogor) sendiri baru beroperasi pada tahun 1930. Kalau dihitung-hitung sudah 79 tahun besi-besi tua jalur kereta tersebut dilindas oleh roda-roda kereta api. Woow…
Pada saat itu, kereta listrik ini merupakan salah satu sistem transportasi yang paling maju di Asia dan ramah lingkungan tentunya.
Seiring berjalannya waktu, jalur Jakarta - Bogor terus mengalami perkembangan dengan ditandai adanya penambahan armada kereta dan penambahan rute-rute baru. Jika dibandingkan tahun 90an, saat ini sistem KA Jabotabek memang sudah berkembang pesat. Jadwal-jadwal keberangkatan pun semakin padat, beroperasi dari gelap hingga gelap dengan kata lain dari subuh sampai larut malam. Perubahan tersebut saya rasakan sendiri, karena saya pribadi sudah menggunakan sarana kereta saat saya masih berada di bangku SD hingga sekarang saya sudah bekerja dan menjadi Commuter KRL Jabotabek. Dulu belum ada kereta AC, tapi sekarang kelas Ekonomi saja sudah ber-AC. Jadwal hampir setiap saat ada dari subuh hingga malam, lebih banyak pilihan pastinya. Terlebih kereta merupakan alat transportasi yang bebas kemacetan. Benarkah begitu?!



Pada kenyataannya tidak sepenuhnya membawa kebahagiaan bagi para penggunanya, termasuk saya. Sepertinya perkembangan ini tidak ditunjang oleh manajemen yang baik. Seringkali kereta mengalami keterlambatan, kerusakan mesin (terutama kelas ekonomi), AC yang kurang dingin, kotor, dll.
Hal yang paling menjadi sorotan saya adalah masalah waktu. Di alam Indonesia yang mengenal istilah “jam karet”, keterlambatan 10-15 menit mungkin masih bisa ditolerir, tapi lebih dari itu rasanya sudah terlalu. Sebetulnya setiap hari memang selalu terjadi keterlambatan kecil terutama di waktu-waktu sore. Hal ini diprediksi terjadi karena terlalu padatnya jadwal keberangkatan.
Ketika terjadi kerusakan yang fatal seperti saat gardu listrik UI terbakar beberapa waktu yang lalu, keterlambatan bisa memakan waktu 1 jam atau lebih bahkan bisa jadi adanya pembatalan keberangkatan, yang membuat kereta tidak lagi menjadi sarana transportasi cepat. Keterlambatan ini terjadi karena pasokan listrik untuk menjalankan kereta-kereta listrik menjadi terbatas/berkurang, sehingga kereta-kereta tersebut harus mengantri satu persatu untuk mendapat giliran jalan, hal ini masih berlangsung hingga sekarang. Seringkali penumpang pun dihadapkan pada ketidakpastian informasi keterlambatan dan perbaikan jadwal. Tidak cuma sekali aku pun terjebak dalam situasi seperti itu. Menjengkelkan memang….
Keterlambatan biasanya disebabkan oleh masalah teknis seperti gangguan sinyal, wesel (alat pemindah jalur), ada kereta mogok, dll. Menurut saya hal ini sebetulnya bermuara pada satu permasalahan yaitu sudah tuanya atau sudah tidak layaknya perangkat-perangkat kelistrikan yang digunakan dalam sistem transportasi kereta termasuk lokomotifnya itu sendiri, ditambah lagi dengan ketidaksigapan petugas untuk memperbaiki kerusakan.
Mungkin sudah saatnya PT KAI Commuter Jabodetabek yang merupakan anak perusahaan PT Kereta Api (Persero) mulai memikirkan pergantian perangkat-perangkat tersebut. Read more »
Berbagi
Filed under: Renungan, Sosial | No Comments »