Tahun Baru, Awal Baru, “Rejeki” Baru

photo-0062photo-0063

“Motor baru Alhamdulillah, tuk dipakai di jalan raya”
“Ngga keren ga apa-apa, yang penting ada manfaatnya” :mrgreen:

Alhamdulillahi robbil ‘alamin di awal tahun ini saya kembali diberikan rejeki dan kepercayaan oleh Allah untuk memegang kembali motor. Senang rasanya bisa kembali beraktivitas dengan motor lagi, ga perlu nunggu angkot, bisa ke mana-mana kapan aja :)

Semoga rejeki kali ini diridhoi oleh Allah dan saya diberikan kekuatan untuk tetap waspada dan lebih berhati-hati, serta selalu berdoa agar tetap berada dalam lindungan Allah SWT dan dijauhkan dari pencuri-pencuri yang nakal. Amiiinn…

Catatan:
Persiapan sebelum berangkat, cek bensin, cek roda dan cek gembok & rante untuk roda :mrgreen:

Persepsi, Sebuah Perspektif

Apa itu Persepsi? Persepsi adalah proses pemahaman ataupun pemberian makna atas suatu informasi terhadap stimulus. Stimulus didapat dari proses penginderaan terhadap objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan antar gejala yang selanjutnya diproses oleh otak (sumber: Wikipedia)

Apa pula yang disebut Perspektif? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, perspektif artinya n 1 cara melukiskan suatu benda pada permukaan yang mendatar sebagaimana yang terlihat oleh mata dengan tiga dimensi (panjang, lebar, dan tingginya); 2 sudut pandang; pandangan.

Apa hubungannya kedua kata di atas? Jelas berhubungan! Perspektif menghasilkan persepsi. Untuk memperoleh pemahaman terhadap sesuatu (persepsi), tentunya akan melibatkan sudut pandang (perspektif).

perspektifKita ambil contoh sederhana, Gambar di samping merupakan persepsi yang melibatkan perspektif. Mata A melihat kubus tersebut dari sudut pandang sisi biru sehingga ia dapat berpendapat bahwa kubus tersebut berwarna biru. Mata B melihat kubus dari sudut pandang sisi kuning sehingga ia dapat berpendapat bahwa kubus tersebut berwarna kuning. Begitu juga dengan Mata C. Perbedaan sudut pandang menyebabkan perbedaan pemahaman terhadap kubus tersebut.

Di dunia yang semakin kompleks ini, suatu perkara akan memiliki lebih dari satu sudut pandang yang menimbulkan lebih dari satu persepsi juga. Tingkat pengetahuan akan sesuatu yang berbeda-beda turut andil pula meningkatkan keragaman persepsi. Keragaman tersebut bisa berdampak positif yang berarti bertukar pikiran/pengetahuan, juga bisa berdampak negatif yang berarti perdebatan, pertentangan bahkan perpecahan. Keragaman negatif inilah yang perlu diwaspadai. Kita tidak dapat menghilangkan keragaman ini karena memang sudah Sunatullah, akan tetapi tentu kita dapat mengurangi resikonya. Berikut tip-tip yang bisa dilakukan (jika mau melakukan, hehehe):

  1. Belajar melihat/menilai sesuatu dari berbagai sudut pandang sebelum menyimpulkannya;
  2. Mau menghargai dan mendengarkan pendapat orang lain;
  3. Sering-sering berpikir positif;
  4. dan yang terakhir, Bijaksana dalam menyikapi sesuatu.

Semoga bermanfaat ;) (kalau ada yang mau menambahkan boleh kok, hehehe)

Lempar Batu Sembunyi Tangan

Peribahasa itu kini bukan hanya sekedar konotasi, tapi telah menjadi definisi sebenarnya. Dan hasilnya seperti yang bisa dilihat di bawah ini:

photo-0027 photo-0043

photo-0018

Foto apakah itu? jawabnya adalah foto lubang pada kaca/jendela gerbong KRL Pakuan Ekspress sebagai akibat dari pelemparan batu oleh seseorang yang menyembunyikan tangannya (nekad, edan, tidak bertanggung jawab). Sampai saat ini, aksi pelemparan tersebut masih sering terjadi (persis kemarin malam gerbong yang saya naiki dilempari batu) dan biasanya terjadi di sepanjang jalur Depok menuju Bogor saat kereta sedang berjalan.

Entah apa yang memicu aksi ini, yang pasti beberapa bulan yang lalu saya menyaksikan langsung akibat dari aksi tersebut. Saat itu sore hari menjelang magrib, kereta sedang melintasi daerah Bojong Gede dan tiba-tiba penumpang dikejutkan oleh suara yang keras, batu yang membentur menembus jendela gerbong dan melukai seseorang yang duduk di jajaran tempat duduk di depan saya. Darah menetes perlahan dari belakang kepalanya, pecahan jendela berserakan di mana-mana. Beruntung lukanya tidak parah dan tidak mengalami pingsan, dan pecahan kaca tersebut tidak melukai yang lain. Seketika pula orang-orang membantu mengobati lukanya tersebut.

Aksi ini memang cukup meresahkan karena sampai saat ini masih terus terjadi dan pihak PT Commuter maupun pihak pengguna jasa kereta tidak dapat berbuat apa-apa.

Semoga Allah menyadarkan orang-orang yang melempar batu sembunyi tangan dan semoga tidak akan terjadi lagi hal-hal seperti ini.

Musibah Pencurian “Si Merah” ku

Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Roji’uun…

Hari itu Senin tanggal 30 November 2009 sekitar pukul 23.30 telah terjadi peristiwa yang mengejutkan, tindak pidana pencurian kendaraan bermotor Honda Mega Pro tahun 2008 warna Merah dengan No. Polisi F 6515 BA a. n. Anggi Muhammad Adriawan yang tidak lain adalah SAYA. Peristiwa tersebut terjadi di sebuah halaman/garasi kantor Greenote, sebuah perusahaan pendistribusian CD/kaset yang beralamat di Jl. Palupuh Raya No. 22 Bantarjati Bogor.

Adapun kronologisnya sebagai berikut:

19.00

Tiba di kantor Greenote dengan menggunakan motor pribadi Honda Megapro warna merah. Motor diparkir di halaman/garasi terbuka tidak berlampu. Sebelumnya sudah ada 3 motor yang parkir terlebih dahulu. Maksud kedatangan adalah untuk mengikuti rapat band bersama pihak Greenote.

+19.30 – 19.45

Dua teman personil band datang, bebebapa menit kemudian menyusul 1 orang lagi. Motor Mega Pro masih ada di depan rumah.

19. 50

Mulai Rapat Pembahasan Rencana Kegiatan Brava di ruang rapat Greenote yang dihadiri sekitar 10 orang.

+ 21.00 – 21.30

Beberapa staf dari Greenote pulang lebih dulu dan tidak menyadari motor Mega Pro sudah tidak ada di tempatnya karena mengira si pemilik tidak membawa motor hari itu.

22.00

Salah satu staf Greenote keluar untuk membeli nasi goreng dan juga tidak menyadari kalau telah terjadi pencurian motor.

23.30

Rapat selesai dan bersiap untuk pulang, ketika itu pula pemilik a.k.a saya keluar dari kantor dan melihat kenyataan bahwa motor saya sudah tidak ada di tempat. Situasi sekitar tidak begitu ramai dan beberapa orang yang akan melaksanakan tugas ronda, baru saja berkumpul di pos ronda. Setelah tanya sana-sini, tidak ada saksi yang melihat kejadian tersebut, sehingga diperkirakan motor telah hilang pada pukul 20.00 pada saat rapat berlangsung dengan serius.

23.30 – 23.45

Melakukan pencarian di lokasi sekitar dan hasilnya nihil

23.45 – 01.15

Melapor ke kantor Polsekta Bogor Utara, dimintai keterangan oleh polisi. Kemudian olah TKP dan membuat surat pernyataan Hilang (cukup lama karena menggunakan printer jadul). Dan pulang ke rumah diantar teman.

07.00 – 08.00

(01-12-09)

Membuat Berita Acara Pemeriksaan di kantor Polsekta Bogor Utara

Sampai saat ini motor tersebut belum diketemukan. Saya pribadi sudah berdoa dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Musibah ini memang memberikan hikmah tersendiri khususnya bagi saya pribadi agar saya selalu hati-hati di mana pun saya berada, waspada terhadap lingkungan sekitar dan lebih teliti menjaga barang-barang yang saya miliki, dan menyadari bahwa semua harta yang kita miliki merupakan titipan dari ALLAH SWT. Semoga ini bisa menjadi renungan buat kita semua khususnya saya pribadi dan Semoga ke depannya tidak terjadi kembali hal-hal yang seperti ini.

motor1 motor3 motor2

Keretaku Tak Berhenti Lama

Naik kereta api tut tut tut
Siapa hendak turut
Ke bandung… surabaya…bolehlah naik dengan percuma
Ayo kawanku lekas naik, Keretaku tak berhenti lama

Rasanya siapa pun yang pernah menjadi anak-anak Indonesia pasti pernah menyanyikan lagu ini, meskipun mereka tidak tahu siapa penciptanya (termasuk diri saya, hehehe). Masih jelas di ingatan saya ketika dahulu menyanyikan lagu ini sambil berbaris dengan teman-teman, berjalan beriringan layaknya rangkaian kereta api. Senang…riang…
Memang enak ya jadi anak-anak :)

Tapi itu mah cuma intermezzo aja. Sebenarnya sengaja saya menuliskan kembali lagu lama ini bukan karena ingin bernostalgia dengan masa kecil saya, tapi karena kondisi perkeretaapian Indonesia, terutama jalur Jabodetabek yang bisa dibilang agak memprihatinkan akhir-akhir ini.

Sebelumnya saya ingin menceritakan sedikit sejarah jalur Kereta Api (KA) Jakarta-Bogor ini. Pada tahun 1923, Staats Spoorwegen (SS) yang merupakan perusahaan kereta api pemerintah Hindia Belanda, memulai pembangunan elektrifikasi jalur KA di Indonesia. Pada saat itu rute yang dibangun adalah rute Tanjung Priuk - Meester Cornelis (Jatinegara) dan selesai pada 24 Desember 1924. Rute Batavia (Jakarta Kota) - Buitenzorg (Bogor) sendiri baru beroperasi pada tahun 1930. Kalau dihitung-hitung sudah 79 tahun besi-besi tua jalur kereta tersebut dilindas oleh roda-roda kereta api. Woow…
Pada saat itu, kereta listrik ini merupakan salah satu sistem transportasi yang paling maju di Asia dan ramah lingkungan tentunya.

Seiring berjalannya waktu, jalur Jakarta - Bogor terus mengalami perkembangan dengan ditandai adanya penambahan armada kereta dan penambahan rute-rute baru. Jika dibandingkan tahun 90an, saat ini sistem KA Jabotabek memang sudah berkembang pesat. Jadwal-jadwal keberangkatan pun semakin padat, beroperasi dari gelap hingga gelap dengan kata lain dari subuh sampai larut malam. Perubahan tersebut saya rasakan sendiri, karena saya pribadi sudah menggunakan sarana kereta saat saya masih berada di bangku SD hingga sekarang saya sudah bekerja dan menjadi Commuter KRL Jabotabek. Dulu belum ada kereta AC, tapi sekarang kelas Ekonomi saja sudah ber-AC. Jadwal hampir setiap saat ada dari subuh hingga malam, lebih banyak pilihan pastinya. Terlebih kereta merupakan alat transportasi yang bebas kemacetan. Benarkah begitu?!

stasiun-bogora-penumpang-numpukpakuan-express

Pada kenyataannya tidak sepenuhnya membawa kebahagiaan bagi para penggunanya, termasuk saya. Sepertinya perkembangan ini tidak ditunjang oleh manajemen yang baik. Seringkali kereta mengalami keterlambatan, kerusakan mesin (terutama kelas ekonomi), AC yang kurang dingin, kotor, dll.

Hal yang paling menjadi sorotan saya adalah masalah waktu. Di alam Indonesia yang mengenal istilah “jam karet”, keterlambatan 10-15 menit mungkin masih bisa ditolerir, tapi lebih dari itu rasanya sudah terlalu. Sebetulnya setiap hari memang selalu terjadi keterlambatan kecil terutama di waktu-waktu sore. Hal ini diprediksi terjadi karena terlalu padatnya jadwal keberangkatan.
Ketika terjadi kerusakan yang fatal seperti saat gardu listrik UI terbakar beberapa waktu yang lalu, keterlambatan bisa memakan waktu 1 jam atau lebih bahkan bisa jadi adanya pembatalan keberangkatan, yang membuat kereta tidak lagi menjadi sarana transportasi cepat. Keterlambatan ini terjadi karena pasokan listrik untuk menjalankan kereta-kereta listrik menjadi terbatas/berkurang, sehingga kereta-kereta tersebut harus mengantri satu persatu untuk mendapat giliran jalan, hal ini masih berlangsung hingga sekarang. Seringkali penumpang pun dihadapkan pada ketidakpastian informasi keterlambatan dan perbaikan jadwal. Tidak cuma sekali aku pun terjebak dalam situasi seperti itu. Menjengkelkan memang….

Keterlambatan biasanya disebabkan oleh masalah teknis seperti gangguan sinyal, wesel (alat pemindah jalur), ada kereta mogok, dll. Menurut saya hal ini sebetulnya bermuara pada satu permasalahan yaitu sudah tuanya atau sudah tidak layaknya perangkat-perangkat kelistrikan yang digunakan dalam sistem transportasi kereta termasuk lokomotifnya itu sendiri, ditambah lagi dengan ketidaksigapan petugas untuk memperbaiki kerusakan.

Mungkin sudah saatnya PT KAI Commuter Jabodetabek yang merupakan anak perusahaan PT Kereta Api (Persero) mulai memikirkan pergantian perangkat-perangkat tersebut. Read more »

Cari Angin atau Cari Mati?!

atap-kereta

Banyak persepsi orang mengenai arti kata “gila” atau “kegilaan”, tapi  sesuai dengan apa yang saya tulis kali ini, menurut saya kegilaan adalah perilaku seseorang yang sudah mengetahui suatu hal tersebut berbahaya, tapi tetap saja nekad melakukannya.

Kegilaan inilah yang dilakukan oleh para penunggang KRL ekonomi bogor. Apa yang mereka lakukan? Coba tebak…Mereka menumpang KRL ekonomi tersebut di tempat yang bukan semestinya, tempat yang berbahaya, beresiko tinggi, menantang maut!!!! Ya betul sekali, mereka menumpang KRL tersebut di atas atap gerbong, Gila bukan?!

Pernah sekali waktu saya berbincang-bincang dengan teman saya yang juga penumpang setia KRL Jabotabek. Saya cukup kaget ketika mendengar cerita darinya yang pernah menjadi penumpang “Gila” tersebut. Katanya sih “pengen cari angin, di atas lebih adem dan ga desek-desekan”. Tercetus dalam hati, “cari angin atau cari mati?!”. Tetapi semenjak dia melihat kejadian orang kesetrum tepat di sampingnya, saat itu pula teman saya memutuskan untuk tidak pernah nangkring lagi di atap KRL.

Saya sendiri pernah melihat dengan mata kepala sendiri seseorang kesetrum kabel yang bergelantung di atap gerbong. Saat itu saya sedang berada di stasiun Gondangdia. Persis di depan saya, ada seseorang yang mencoba naik ke atap kereta, sesampainya di atas sepertinya dia lupa menunduk sehingga kepalanya menyentuh kabel listrik bertegangan tinggi. Sontak badannya kejang-kejang, kaku dan tak sadarkan diri.Teman yang berada di sampingnya memeganginya dan berteriak-teriak minta tolong (Gimana mau menolong, wong dianya ada di atas kereta). Segitu teh baru nyentuh dikit, gimana kalau megang kabelnya?!?! kata orang sih bisa sampai gosong…Mengerikan !!!!!

Melihat kejadian itu, hati saya miris bercampur kesal. Mengapa orang-orang masih banyak yang nekad naik di atap kereta padahal sudah tahu hal itu sangat berbahaya, beresiko jatuh dari kereta dan yang paling fatal adalah tersengat listrik. Pihak PT. KAI sendiri sudah memberikan peringatan secara lisan, menempatkan tulisan besar-besar di atas gerbong “Bahaya!!! Bukan Tempat Penumpang, Listrik Bertegangan 1500 Volt”, dan menempatkan petugas penjaga peron.

Memang sulit menyadarkan orang lain, saya sendiri belum mampu untuk mencegah atau paling tidak mengingatkan orang-orang “Gila” itu untuk tidak naik di atap KRL karena masih ada perasaan takut, takut dimaki-maki, takut disemprot, dll. Saya cuma bisa berharap hal seperti ini tidak terjadi lagi di masa yang akan datang, semoga semakin banyak orang yang sadar akan keselamatan jiwanya dan peduli terhadap lingkungannya.

Pohon Faktor Kehidupan

ilustrasi-pohon-faktor-kehidupan Pernahkah kau bertanya pada diri sendiri, mengapa hidup ini tidak selalu seperti yang kita inginkan? Apakah rencana-rencana kita terlalu sempurna, ataukah memang usaha kita yang belum cukup maksimal untuk mewujudkannya?!Mungkin juga karena sifat manusia yang tidak pernah merasa puas.

Rangkaian-rangkaian rencana yang kita buat dalam perjalanan hidup ini sudah barang tentu dan secara tidak kita sadari akan membentuk rangkaian-rangkaian kejadian yang telah kita lewati atau katakanlah itu menjadi sebuah rangkaian takdir. Rangkaian-rangkaian tersebut sempat menggelitik sisi nalarku yang konyol. Hingga aku memunculkan sebuah ide/teori yang cukup konyol (dan mungkin teori ini hanya berlaku untuk hidupku saja) dan kuberi nama Pohon Faktor Kehidupan.

Logikanya demikian, seperti halnya pohon faktor dalam pelajaran matematika, dimana angka yang berada di atas/puncak saling bertautan dengan kemungkinan angka-angka di bawahnya. Ketika kita memilih satu angka di puncak, maka kita akan dihadapkan oleh pilihan-pilihan angka di bawahnya, dengan kata lain, pada dasarnya logika berpikir kita untuk memilih sesuatu akan diarahkan pada suatu pola yang tergambar oleh pohon faktor tersebut. Kesimpulannya adalah jika kita memilih satu hal dalam hidup ini maka akan memunculkan kemungkinan-kemungkinan lain yang bertautan dengan kejadian yang kita pilih dan menutup kemungkinan-kemungkinan lain yang tidak bertautan. Dengan kata lain, meskipun hidup ini diselimuti oleh berbagai macam pilihan, tapi tetap saja Tuhan yang menentukan, tetap saja rangkaian-rangkaian kisah hidup ini sudah ada yang menggariskan. Mungkin prosesnya yang berbeda, tapi untuk hasil akhir yang sama yaitu 1.

Make a good choise, keep trying the best for the best ….. ;-)

Tundukku di Hari Kemenangan

Takbir mulai berkumandang, tanda Idul Fitri menjelang. Tak terasa 29 hari telah berlalu, Alhamdulillah puasaku penuh. Alhamdulillah tahun ini Idul Fitri diselenggarakan secara bersamaan, serempak di seluruh dunia yang berarti Gema Takbir akan terus berkumandang tidak henti-hentinya selama 24 jam lebih di seluruh dunia. Maha Suci Allah…

Berakhirnya Ramadhan kali ini benar-benar membawa banyak pertanyaan dalam diriku, haruskah aku bergembira menyambut lebaran yang merupakan hari kemenangan. Atau haruskah aku bersedih karena Ramadhan telah berakhir, yang berarti berakhir pula kesempatan mencari kebaikan yang berlipat ganda balasannya. Sepertinya tidak terpikirkan olehku untuk bersedih, malah aku gembira karena tidak perlu lagi bangun subuh, tidak perlu lagi menahan lapar dan haus. Astagfirullah… Ampuni hambamu yang picik ini Ya Allah…

Pertanyaan lainnya, Apakah puasaku diterima oleh Allah, apakah tarawehku diterima oleh Allah, apakah solatku, zakatku, sodaqohku diterima oleh Allah.

Apakah puasaku diterima di sisi-Nya?

Bagaimana mungkin…terkadang puasaku hanya menahan lapar dan haus, mata masih suka curi pandang, mulut masih berujar kata kasar, telinga malah asyik mendengarkan musik, hati tak terjaga, malas beribadah, dsb. Astagfirullah…

Apakah solatku, tarawehku diterima di sisi-Nya?

Bagaimana mungkin… solatku saja tidak khusyu, tidak tuma’ninah, pikiran bercabang, tarawehku dalam keadaan ngantuk, inginnya cepat beres. Astagfirullah…

Apakah zakatku, sodaqohku diterima di sisi-Nya?

Belum tentu… terkadang hati ini masih tidak ikhlas, masih perhitungan, masih mengharapkan balasan harta, bukan mengharapkan ridho-Nya, masih ingin dilihat orang lain. Astagfirullah…

Sungguh semua itu membuatku merasa Ramadhan kali ini menjadi sia-sia. Bukan kemenangan yang kudapat, tapi kerugian yang menjerat. Bukan fitrah/ kesucian yang kurasakan, tapi noda-noda yang tak kunjung hilang.

Ya Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Ampunilah hambamu yang hina ini. Terimalah puasaku dan ibadah-ibadahku selama sebulan penuh di bulan Ramadhan yang telah lalu. Tegarkanlah imanku untuk tetap rajin beribadah kepada-Mu Ya Allah…

Wallahualam….

Butuh Hidayah untuk Berhenti Merokok

Sudah kurang lebih 9 bulan, tidak tahu kapan tepatnya saya sudah berhenti merokok. Bukan perkara mudah berhenti dari kecanduan merokok meskipun menurut para “ahli hisap” tingkat merokok saya belum termasuk kategori berat. Tapi bukankah jika keinginan untuk merokok cukup tinggi maka bisa dikategorikan sebagai pecandu rokok?! Beda perspektif beda pendapat memang.

Kebiasaan saya merokok awalnya terjadi karena saya penasaran dengan rasanya, bagaimana seseorang bisa sangat menikmati asap-asap yang mengepul sedemikian rupa dari mulutnya. Waktu itu saya masih ingat di tahun pertama saya kuliah, saya berkumpul dengan teman-teman tetangga di rumah untuk merayakan Malam Tahun Baru. Ketika itu ada salah satu teman saya yang mentraktir rokok, menyodorkannya pada saya dan tanpa berpikir panjang langsung saja saya sambar satu batang rokok dengan dugaan saya tidak akan pernah merasakan nikmatnya merokok. Padahal sebelum merasakan yang namanya rokok saya selalu bertanya pada perokok-perokok termasuk pada diri saya sendiri, mengapa mereka rela menyisihkan uangnya hanya untuk membakar uang.

Hari demi hari, bulan demi bulan, saya mulai mencoba rokok-rokok dengan merk lain yang tentunya saya dapat dari tawaran orang-orang yang merokok :P  mulai dari hanya menyedot di mulut kemudian membuangnya, sampai pada akhirnya saya menghisapnya ke dalam paru-paru, mulai merasakan kenikmatan merokok dan sampai pada akhirnya saya menemukan rokok yang cocok dengan lidah saya,hehehe…  Sejak saat itu saya mulai membeli satu bungkus rokok yang dihabiskan dalam jangka waktu seminggu atau lebih jadi kira-kira sehari itu sebatang atau 2 batang. Kemudian meningkat intensitasnya, terlebih jika ada kegiatan begadang dengan para “ahli hisap”.

Kurang lebih 2-3 tahun saya menjadi perokok aktif (membeli rokok) meskipun tidak seaktif pecandu tapi tidak pula sepasif perokok amatiran (jadi perokok rata-rata lah :D), saya mulai merasakan ketidaknyamanan pada tenggorokan dan paru-paru saya. Tapi tunggu dulu, bukan itu yang membuat saya berhenti merokok.

Awal saya berhenti merokok adalah karena saya 2-3 kali kehilangan korek gas yang sudah barang tentu menjadi modal para perokok yang bermodal ;)  Konyol memang, karena bagi sebagian orang kehilangan korek gas bukan perkara besar untuk menghentikan seseorang dari ketergantungan rokok. Akan tetapi itulah yang terjadi pada saya. Kehilangan korek gas tersebut membuat saya menjadi malas untuk membeli korek termasuk membeli sebungkus/sebatang rokok lagi. Pada akhirnya saya kembali menjadi perokok “aktif”, tapi aktif yang satu ini adalah aktif meminta-minta ke orang lain, hehehe… Mungkin karena keseringan meminta itulah sehingga timbul rasa tidak enak hati kepada yg diminta meskipun yang diminta tetap menawarkan. Dan pada saat itulah saya memutuskan untuk tidak lagi merokok.

Memang berat pada awalnya, godaan untuk kembali merokok sangat kuat terlebih ketika saya berada pada lingkungan orang-orang perokok. Namun memang dibutuhkan keteguhan hati untuk mengatakan TIDAK, SAYA SUDAH TIDAK MEROKOK, tentunya menolak dengan cara yang sopan. Berat rasanya kehilangan benda yang pernah menjadi teman dalam kesendirian, terlebih pada masa recovery di mana pernafasan menjadi sering tidak lancar, mungkin disebabkan karena paru-paru mulai membersihkan dirinya dari racun-racun. Tapi Alhamdulillah atas hidayah ALLAH saat ini saya sudah bebas rokok :>

Kenapa saya katakan bahwa berhentinya saya merokok atas hidayah Allah?! Karena tidak sedikit orang yang berhenti namun terjerumus kembali, tidak dapat menahan diri untuk sedikit demi sedikit kembali mencicipi rokok. Tidak sedikit orang yang tidak peduli akan bahaya merokok padahal sudah jelas merusak kesehatan (termasuk diri saya pada saat itu). Itulah sebabnya saya yakin keinginan untuk berhenti adalah karena saya mendapatkan hidayah, berkah dari Allah untuk kembali menjalani hidup yang sehat. Diberikan keteguhan hati untuk tidak tergoda lagi menghisap barang yang membawa kerusakan dan penyakit pada tubuh saya.

Terucap rasa syukur kepadaMu Ya Allah

Terima kasih pula untuk seseorang yang special bagi saya yang tidak henti-hentinya mengingatkan saya untuk kembali ke jalan yang benar :-)

Mulutmu Harimaumu

Peribahasa yang pantas untuk orang sepertiku. Berapa kali aku kehilangan teman, sahabat, kepercayaan. Berapa kali aku menyakiti perasaan orang, orang tua, saudara, teman. Cuma karena mulutku. Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga.

Itulah sebabnya mengapa seringkali aku lebih memilih untuk diam. Diam untuk tidak berkata, untuk tidak berkomentar. Padahal sekian banyak kata terkadang menumpuk memenuhi alam pikiran untuk menunggu giliran terucap dari mulut.

Mungkin diam adalah tindakan yang paling bijaksana untuk orang seperti diriku, manusia bodoh yang selalu mengulangi kesalahan yang sama.

Astaghfirullah, Ampuni aku Ya Tuhan
Maafkan aku Ibu… Maafkan aku saudara-saudaraku…
Maafkan aku teman…Myooaafkan aku sahabat….