Barangkali setiap anak yang pernah belajar membaca dan menulis akan sangat familiar dengan judul di atas. Tapi sampai saat ini apakah kita tahu siapakah sebenarnya nama asli dari Ibu Budi itu??? Hehehe…bukan itu yang akan kubahas di postinganku kali ini.
Kegiatan tulis menulis sebetulnya sudah kita geluti mulai dari saat kita mengenal sesuatu yang bisa digenggam untuk kemudian dicoret-coretkan ke media apapun itu (kertas, lantai, tembok, dll). Hanya saja kegiatan ini secara sadar dilakukan ketika kita mulai diajari cara tulis menulis yang baik dan benar oleh orang tua atau pun guru.
Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya ilmu tentang tulis menulis, maka seiring itu pula kegiatan ini dapat menjadi suatu hobi atau seni, seni merangkai kata-kata, seni mencurahkan hati, dll. Dengan pengetahuan mengenai majas, kiasan, kosakata, dan lain sebagainya, sebuah tulisan akan menjadi lebih berbobot dan bermakna. Sehingga ketika kegiatan menulis menjadi seni, maka kegiatan ini menjadi suatu kegiatan yang serius dan mau tidak mau harus merenggut sebagian ruang dan waktu kita (ini yang baru kusadari).
Untuk menghasilkan sebuah tulisan yang berbobot dan bermakna bagi yang membacanya, maka dibutuhkan pengetahuan menulis dan berbahasa. Dalam mempelajari pengetahuan tersebut, kita membutuhkan waktu sekitar 12 tahun dalam pendidikan formal untuk dapat menguasainya. Ini belum termasuk waktu yang kita butuhkan dalam membuat sebuah tulisan, di mana kita harus mengkonsep, mendraft, mengembangkan imajinasi, menjadikannya menarik, kemudian mengedit untuk layak dipublikasikan, paling tidak mendatangkan rasa puas di diri kita. Jadi dapat anda bayangkan berapa waktu yang dibutuhkan untuk membuat sebuah tulisan yang layak dipublikasikan.
Hal di atas pun terjadi kepadaku ketika aku mulai mencoba menulis sesuatu, kendala-kendala pun kualami, bagaimana sulitnya mengkonsep, membuat draft, merangkai kerangka konsep, sehingga terlihat jelas alur ceritanya dan lebih enak untuk dibaca, menyisipkan kata-kata yang menarik sehingga tidak terkesan monoton atau membosankan, dan lain sebagainya. Namun yang terpenting adalah memunculkan ide atau inspirasi, karena ide itu seperti wangsit yang datang secara tiba-tiba dan tidak terduga sehingga kita tidak dapat merencanakan kapan saatnya yang paling tepat untuk menulis.
Oleh karena itu, untuk bisa menjadi seorang penulis yang baik dan berhasil dibutuhkan kemauan diri untuk terus belajar, menambah khasanah ilmu, banyak membaca buku, mengembangkan ide-ide dan imajinasi serta hasrat untuk menulis.
(Mohon maaf bila judul dan tulisannya tidak nyambung….
)

Siapakah ibu Budi?
Berbagi