Renungan, Sosial
No Comments Guru Ngaji, Berkah Ilahi
Akhir-akhir ini keluarga saya sedang sibuk menyiapkan pernikahan kakak saya, termasuk mendata siapa-siapa sajakah yang akan diundang ke acara resepsi pernikahannya. Ketika saya sedang merinci nama-nama, entah kenapa tiba-tiba saja saya teringat salah seorang sosok yang sangat penting dan pernah hadir dalam kehidupan saya. Dia bukan pacar, teman dekat, bukan pula guru matematika, guru bahasa inggris, ataupun guru sejarah, beliau adalah guru ngaji Al Qur’an saya sewaktu masih kecil, biasa dipanggil Pa Darsa. Perawakannya kurus, wajah tirus, tinggi sekitar 160 cm, mata cekung, dan rambut belah tengah.
Profesi sebagai guru ngaji rasanya bukan dambaan setiap orang, mungkin karena hanya digaji alakadarnya dibandingkan guru-guru les lainnya, padahal profesi inilah yang mendekatkan kita kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Saya pernah mendengar riwayat, di zaman Khalifah Umar bin Khattab, guru ngaji malah dibayar sangat mahal dibandingkan profesi lainnya, sangat berkebalikan dengan saat ini tentunya. Seharusnya guru ngaji itu memang digaji besar, karena dia sudah pasti memberikan suatu ilmu yang mendatangkan pahala. Tapi mungkin uang memang tidak bisa dibandingkan dengan keikhlasan memberikan ilmu, segalanya menjadi tidak berarti lagi dibandingkan ridho Allah SWT. What a best job, isn’t it?
OOT: kata “ngaji” sebetulnya berasal dari kata “mengkaji” yang berarti membaca dan memahami. Akan tetapi kebanyakan masyarakat Indonesia mengidentikkan kata “ngaji” ini dengan belajar membaca Al Qur’an atau membaca Al Qur’an sehingga sering disebut mengaji atau ngaji Al Qur’an.
Dulu ketika kami pindah rumah ke Cimanggu Permai, orang tua saya cukup sibuk mencari nafkah (dalam rangka membangun rumah tangga yang baru tumbuh) sehingga tidak punya cukup waktu untuk mengajari anak-anaknya mengaji Al Qur’an. Pada akhirnya orang tua saya memanggil guru ngaji Al Qur’an atau lebih tepatnya guru yang mengajarkan cara membaca Al Qur’an dengan baik dan benar. Dan guru tersebut adalah Pa Darsa.
Waktu itu Pa Darsa masih menjadi guru TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an) di masjid dekat rumah saya. Beliau biasa datang ke rumah dua kali seminggu untuk memberi pelajaran mengaji kepada saya dan kakak saya. Beliau hampir tidak pernah absen untuk memberikan pelajaran meskipun terkadang cuaca tidak mendukung dan harus menghadapi kenyataan bahwa beliau memiliki murid-murid yang agak malas seperti kami, hehehe… Kalaupun beliau berhalangan hadir di jadwal yang sudah ditentukan, biasa beliau akan mencari waktu pengganti.
Pelajaran mengaji kami saat itu dimulai dari Iqra I kemudian Juz Amma dan sampai membaca Al Qur’an secara penuh yang dimulai dari surat Al Fatihah. Saya tidak ingat berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga saya mampu membaca Al Qur’an dengan baik, sepertinya sih cukup lama. Biasanya setelah pelajaran mengaji, Pa Darsa akan memberikan sedikit pelajaran mengenai tata cara beribadah atau biasa disebut Fiqh. Beliau tidak mementingkan seberapa cepat kami dapat fasih membaca Al Qur’an, justru beliau akan terus memaksa kami untuk mengulang dan mengulang kembali apa yang pernah kami baca. Mungkin Pa Darsa mempunyai filosofi “semakin sering besi ditempa, maka akan semakin bagus hasilnya”.
Sempat di satu waktu, saya baru saja pulang sekolah sore hari karena ada kegiatan ekstra yang membuat badan saya terasa sangat letih. Akan tetapi kebetulan hari itu adalah jadwal mengaji. Ternyata Pa Darsa sudah datang lebih awal ke rumah dan sudah menunggu cukup lama. Karena saya sudah merasa sangat lelah, saya langsung berbaring di tempat tidur tanpa menghampiri beliau, berharap ada yang memberi tahu kepada beliau untuk membatalkan pelajaran mengaji hari itu dan membiarkan beliau pulang. Tanpa diduga Pa Darsa masuk ke kamar saya dan menanyakan keadaan saya. Jelas sekali saya sangat malu waktu itu, dan dengan agak malas saya pun menjelaskan bahwa saya terlalu lelah untuk mengaji hari itu. Tanpa bertanya lebih lanjut, beliau pun menyuruh saya segera beristirahat saja. Kalau dipikir-pikir sekarang, betapa sabarnya beliau menghadapi kami yang malas ini, yang lebih memilih menonton televisi dibandingkan mengaji Al Qur’an, dan malahan saat ini kok timbul rasa bersalah ya karena sering tidak memedulikan beliau.
Hari berganti hari sampai pada saatnya beliau mengakhiri untuk memberikan pelajaran mengaji kepada kami, karena menurut beliau kami sudah cukup baik membaca Al Qur’an. Hal tersebut seiring dengan rencana beliau untuk menikah dan memiliki pekerjaan baru di suatu perusahaan. Di pertemuan terakhir pelajaran mengaji, Pa Darsa memberikan kenang-kenangan kepada saya berupa buku saku mengenai Fiqh, yang menurut beliau bisa dijadikan pegangan bagi saya untuk menjalani hidup ke depannya. Saya sangat menyesal sekali karena buku tersebut sudah tidak saya miliki lagi. Sampai saat ini saya belum pernah lagi bertemu dengan Pa Darsa. Terakhir yang saya tahu, beliau memiliki rumah di daerah Kebon Pedes. Saya berharap di masa mendatang dapat bertemu kembali dengan Pa Darsa, hanya untuk sekedar mengobrol saja atau meminta nasehat kehidupan.
Kepada Pa Darsa, saya mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya karena telah dengan sabar memberikan ilmu yang sangat berharga dan tak terhitung nilainya. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT. Amiiinn…
Quote: “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, bukan hanya karena pengabdian dan pengorbanannya, tapi juga karena selalu dikenang oleh setiap muridnya dan banyak orang.”


Minggu, 6 Maret 2011, pukul 13.15 WIB saya bertolak menuju Jakarta dengan menggunakan Innova, sendiri. Gumpalan awan Cumulonimbus
Pada kesempatan lain Darmon Meader menunjukkan keahliannya meniup saksofon, sedangkan 


Mbah Carlos Augusto Alves Santana adalah seorang Mexican American yang lahir di Meksiko 64 tahun yang lalu, itulah mengapa saya memanggilnya “Mbah”, hehehe… Ketenarannya bermulai saat ia membentuk sebuah band dengan nama “Santana” di akhir tahun 1960 hingga awal tahun 1970 dengan mengusung genre musik Rock, Salsa dan Jazz Fusion (ketemu juga nih relevansinya dengan jazz). Sempat mengalami keterpurukan di tahun 1990 dan akhirnya pada tahun 1999 Mbah Santana mulai menikmati kesuksesannya kembali lewat albumnya yang berjudul Supernatural, sebuah album kolaborasi dengan beberapa musisi terkenal seperti Rob Thomas, Eric Clapton, dll. Sampai saat ini si mbah sudah meraup 10 Grammy Awards dan 3 Latin Grammy Awards. Waaaww..!!!! Amazing! Amazing!


Beberapa hari yang lalu saya berbincang-bincang dengan seorang teman mengenai kondisi cuaca di Indonesia yang tidak menentu. 

