Cari Angin atau Cari Mati?!

Banyak persepsi orang mengenai arti kata “gila” atau “kegilaan”, tapiĀ sesuai dengan apa yang saya tulis kali ini, menurut saya kegilaan adalah perilaku seseorang yang sudah mengetahui suatu hal tersebut berbahaya, tapi tetap saja nekad melakukannya.
Kegilaan inilah yang dilakukan oleh para penunggang KRL ekonomi bogor. Apa yang mereka lakukan? Coba tebak…Mereka menumpang KRL ekonomi tersebut di tempat yang bukan semestinya, tempat yang berbahaya, beresiko tinggi, menantang maut!!!! Ya betul sekali, mereka menumpang KRL tersebut di atas atap gerbong, Gila bukan?!
Pernah sekali waktu saya berbincang-bincang dengan teman saya yang juga penumpang setia KRL Jabotabek. Saya cukup kaget ketika mendengar cerita darinya yang pernah menjadi penumpang “Gila” tersebut. Katanya sih “pengen cari angin, di atas lebih adem dan ga desek-desekan”. Tercetus dalam hati, “cari angin atau cari mati?!”. Tetapi semenjak dia melihat kejadian orang kesetrum tepat di sampingnya, saat itu pula teman saya memutuskan untuk tidak pernah nangkring lagi di atap KRL.
Saya sendiri pernah melihat dengan mata kepala sendiri seseorang kesetrum kabel yang bergelantung di atap gerbong. Saat itu saya sedang berada di stasiun Gondangdia. Persis di depan saya, ada seseorang yang mencoba naik ke atap kereta, sesampainya di atas sepertinya dia lupa menunduk sehingga kepalanya menyentuh kabel listrik bertegangan tinggi. Sontak badannya kejang-kejang, kaku dan tak sadarkan diri.Teman yang berada di sampingnya memeganginya dan berteriak-teriak minta tolong (Gimana mau menolong, wong dianya ada di atas kereta). Segitu teh baru nyentuh dikit, gimana kalau megang kabelnya?!?! kata orang sih bisa sampai gosong…Mengerikan !!!!!
Melihat kejadian itu, hati saya miris bercampur kesal. Mengapa orang-orang masih banyak yang nekad naik di atap kereta padahal sudah tahu hal itu sangat berbahaya, beresiko jatuh dari kereta dan yang paling fatal adalah tersengat listrik. Pihak PT. KAI sendiri sudah memberikan peringatan secara lisan, menempatkan tulisan besar-besar di atas gerbong “Bahaya!!! Bukan Tempat Penumpang, Listrik Bertegangan 1500 Volt”, dan menempatkan petugas penjaga peron.
Memang sulit menyadarkan orang lain, saya sendiri belum mampu untuk mencegah atau paling tidak mengingatkan orang-orang “Gila” itu untuk tidak naik di atap KRL karena masih ada perasaan takut, takut dimaki-maki, takut disemprot, dll. Saya cuma bisa berharap hal seperti ini tidak terjadi lagi di masa yang akan datang, semoga semakin banyak orang yang sadar akan keselamatan jiwanya dan peduli terhadap lingkungannya.
Filed under: Sosial

mungkin yg di dalem penuh kali ya? atau emang udah kebiasaan mereka aja. seringnya sih gara2 kebiasaan.. mau didisiplinin juga susah..
salam kenal yah!
@elia: emang udah budaya susah ditertibkan kayanya, hehehe… kecuali musim hujan, udah pasti ga ada tuh yg nangkring di atap
kasih oli aja atapnya…